
MERANGIN, JAMBI — Proyek revitalisasi SLB Negeri Pinang Merah di Kecamatan Pamenang Barat, Kabupaten Merangin yang dibiayai tahun anggaran 2025 justru menuai kekecewaan dan sorotan tajam dari masyarakat. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat nyaman bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini, dinilai dibangun asal jadi tanpa mengutamakan kualitas dan ketahanan bangunan.
Berdasarkan pantauan dan keluhan warga, sejumlah kejanggalan dan kekurangan kualitas terlihat jelas:

- Pondasi menggunakan bata merah — dinilai kurang kuat untuk jangka panjang
- Kusen, pintu dan jendela sudah banyak renggang — belum lama selesai sudah tampak rusak
- Kuda-kuda atap menggunakan baja ringan — kekuatan dan pemasangannya dipertanyakan
- Pasangan keramik tidak rata dan berantakan — pengerjaan terlihat sangat buruk
Masyarakat Pinang Merah menyampaikan kekhawatirannya. Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, namun justru dibangun seadanya. Padahal, Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) diterima setiap tahun.
“Dibangunnya asal jadi saja, habis itu tidak dirawat lagi. Kasihan anak didik yang bersekolah di sini. Seharusnya mendapat perhatian khusus, malah kondisinya makin memprihatinkan!” ujar warga.
Media berusaha mengonfirmasi langsung kepada Kepala Sekolah terkait keempat poin keluhan tersebut melalui pesan WhatsApp. Namun pesan sudah terbaca namun tidak dijawab sama sekali. Keengganan memberikan penjelasan ini semakin memicu kecurigaan masyarakat.
Salah satu tokoh pemuda setempat menyampaikan pendapatnya dengan tegas:
“Uang rakyat seharusnya digunakan dengan sebaik-baiknya. Kalau membangun, tolong benar-benar dibangun dengan baik dan tahan lama. Jangan asal bangun saja, asal habis anggarannya, lalu ditinggalkan begitu saja. hbis Anak-anak berkebutuhan khusus ini berhak mendapatkan fasilitas terbaik, bukan bangunan asal jadi!”
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan dari pihak sekolah. Masyarakat pun bertanya-tanya: Apakah pengawasan proyek ini berjalan? Ke mana perginya anggaran yang seharusnya menghasilkan bangunan berkualitas? Mengapa sekolah anak berkebutuhan khusus justru mendapat perlakuan paling buruk?
Media akan terus memantau perkembangan masalah ini dan menunggu tanggapan resmi dari pihak terkait.
Reporter : Kaperwil Jambi






