
Makan Gusti Lekar dan Utin Periok

JejakKejahatan_Meliau_Sanggau-KalBar, Minggu 31 Mei 2026 – Ditengah hutan rimbun wilayah kecamatan Meliau kabupaten Sanggau tepatnya lokasi tersebut terletak di dusun sungai Rambai kampung pancur desa Meliau hulu seberang kota kecamatan Meliau, kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, berdiri sebuah situs bersejarah yang menjadi saksi kejayaan masa lalu kerajaan Tanjung Pura: Makam Raja Meliau Gusti Lekar bersama Ratu permaisurinya, Ratu Utin Periok. Tempat ini bukan sekedar makam, melainkan salah satu peninggalan terpenting yang menyimpan kisah kepemimpinan, keberanian,dan penyebaran Islam diwilayah pedalaman Kalimantan Barat.
Gusti Lekar, Raja Meliau yang dikenal bijaksana dan berwibawa, serta Ratu Utin Periok permaisuri yang mendampingi beliau dalam memimpin rakyat dan mengembangkan adat serta agama.Bangunan makam yang dilindungi atap, berwarna kuning dan berpagar kayu itu tetap terawat sederhana namun bermartabat, Menjadi tujuan ziarah warga dan peneliti sejarah hingga hari ini.
Menurut catatan sejarah dan cerita turun-temurun masyarakat setempat, Gusti Lekar merupakan keturunan langsung dari dinasti penguasa kerajaan Tanjung Pura, salah satu kerajaan tertua dan terbesar di Kalimantan berdiri sejak abad ke-14 Masehi. Beliau diangkat menjadi Raja Meliau, wilayah yang saat ini menjadi pusat perdagangan, pertanian, serta menjadi penyebaran agama Islam yang damai dan berakar pada nilai-nilai adat istiadat budaya Melayu.
Ratu Utin periok bukan hanya pendamping Raja, tetapi juga tokoh yang sangat dihormati.Beliau berperan besar dalam menguatkan persatuan antar suku dan menjaga kesejahteraan rakyat, terutama kaum perempuan dan anak-anak. Bersama-sama, pasangan ini dikenal memimpin dengan keadilan , sehingga namanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat sebagai pelindung dan pemimpin yang dicintai.
Makam ini menjadi bukti nyata bahwa wilayah Meliau pernah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah panjang kerajaan Tanjung Pura, yang pengaruhnya membentang dari pesisiran hingga ke pedalaman Kalimantan. Arsitektur makamnya menggabungkan unsur budaya Melayu dan Islam: bentuk atap yang khas kubah kecil dipuncak,dan warna kuning yang melambangkan kemuliaan raja-raja Melayu.
Hingga kini, situs ini masih dikunjungi oleh warga sekitar, keturunan keluarga kerajaan, serta wisatawan sejarah. Mereka datang bukan hanya untuk berziarah, tetapi juga untuk menghormati warisan leluhur dan mengenang jasa Raja Gusti Lekar dan Ratu Utin Periok yang telah meletakkan dasar kehidupan bernegara, beragama,dan bermasyarakat yang damai diwilayah ini.
Makam Raja Meliau Gusti Lekar dan Ratu Utin Periok menjadi pengingat bahwa sejarah kejayaan Nusantara tersimpan bukan hanya dibuku, tetapi juga ditempat-tempat sakral seperti ini -yang terus berdiri tegak ditengah alam, menyimpan kisah yang tak lekang oleh waktu.
Sebagaimana mana paparan dari pengurus makam tersebut, Bapak RD.Jemali memaparkan alangkah indahnya kebersamaan antara masyarakat, keluarga keturunan raja dan pemerintah, bersama-sama merawat, memelihara dan melestarikan situs sejarah yang begitu berharga. Ya’ meskipun untuk sementara ini merawat dan memelihara makam tersebut, hanya keswadayaan saja. Dari para masyarakat yang berniat hajat dan keturunan keluarga Kerajaan, diharapkan untuk kedepannya adanya kerjasama dan bantuan pemerintah yang terkait agar terwujudnya keindahan kebersamaan.










