

JEJAK KEJAHATAN | Batam, 28 April 2026 Sebuah aduan dari masyarakat kembali menyoroti dinamika layanan antar makanan di kota industri ini.Insiden
yang melibatkan seorang mitra pengemudi layanan pengantaran dan pelanggan di kawasan One Mall menuju King Ways lantai 2 membuka perdebatan lama di mana batas kewajiban driver, dan di mana dimulai ekspektasi pelanggan?Peristiwa bermula ketika seorang driver menerima pesanan penjemputan makanan dari One Mall Batam dengan tujuan pengantaran ke area King Ways lantai 2.
Setibanya di lokasi, pelanggan meminta agar pesanan diantarkan langsung ke lantai tujuan. Namun, permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh driver.
Driver menyampaikan bahwa tidak ada kewajiban formal untuk mengantarkan pesanan hingga ke lantai atas, baik lantai 1, 2, maupun 3. Ia menegaskan bahwa pengecualian biasanya hanya diberikan atas dasar kemanusiaan, seperti kepada pelanggan berkebutuhan khusus atau ibu hamil.
Di sisi lain, pelanggan memilih untuk tidak memperpanjang situasi. Ia mengambil langsung pesanannya dan tetap menyampaikan ucapan terima kasih. Namun, interaksi yang dinilai kurang responsif dari pihak driver berujung pada penurunan rating layanan, dari sebelumnya sempurna menjadi 4,92.
Dalam konfirmasi terpisah kepada wartawan, pelanggan mengungkapkan bahwa praktik pengantaran hingga titik tertentu di dalam gedung sebenarnya bukan hal baru.
“Biasanya memang diantar sampai ke area security lantai 2,” ujarnya, menandakan adanya ekspektasi layanan yang telah terbentuk dari pengalaman sebelumnya.
Insiden ini menjadi cerminan dari persoalan yang lebih luas di era ekonomi digital ketika standar layanan sering kali berada di antara aturan platform, kebiasaan lapangan, dan nilai-nilai personal seperti empati.
Di tengah kompetisi layanan yang semakin ketat, satu hal menjadi jelas pengalaman pelanggan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga oleh sentuhan kecil yang membentuk kesan besar.












