Jejak kejahatan,Jakarta, 14 April 2026 — Gagasan ini merupakan ajang diskusi tokoh bangsa dengan tajuk besar:
Forum Dialog Kebangsaan dan Bela Negara DPP GAKORPAN bersama LBH Pers Prima Presisi Polri dan LBH Pers Rumah Besar Relawan Prabowo Gibran 08, mengusung tema “Suara Rakyat untuk Keadilan dan HAM”.
Hadir sebagai narasumber, Ketua Umum LPAI sekaligus pemerhati anak Indonesia, Kakek Seto (Prof. Dr. Seto Mulyadi, Psi., M.Si), yang membahas polemik krusial terkait anak-anak Indonesia, termasuk kasus anak dari Bunda Yenny Amalia, yakni santri ZZ (13 tahun) di Jagakarsa yang menjadi korban kekerasan dan mengalami trauma pelecehan. Korban juga disebut mengalami tindakan tidak adil hingga dikeluarkan secara arogan oleh oknum ustaz pengajar yang diduga memiliki dendam pribadi.
Menurut pengacaranya, David Sianipar, SH, MH dari GAKORPAN, korban bahkan mengalami pemukulan menggunakan rotan hingga dua kali, yang menyebabkan trauma psikologis. Selain itu, korban juga dipaksa mengonsumsi obat penenang dari psikiater di lingkungan Pesantren Ar-Rofi, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Kegiatan berlangsung meriah dan digelar di sebuah padepokan yang asri, dilengkapi sarana bermain anak milik LPPAI (Lembaga Pemerhati Perlindungan Anak Indonesia) di Jalan Cirendeu Permai No. 13, Jakarta Selatan. Dr. Bernard pun memberikan apresiasi kepada Kakek Seto yang dikenal ramah, berjiwa kebapakan, tetap energik, dan merupakan sosok intelektual dari Universitas Indonesia yang berdedikasi tinggi dalam perlindungan anak.
Dalam kesempatan tersebut, turut dikenang tokoh-tokoh legendaris dunia anak Indonesia seperti Pak Kasur, Bu Kasur, Ibu Sud, Ibu Meinar, Kak Tino Sidin, Si Komo, Kak Ria Enes dan boneka Susan, serta Pak Raden. Masa itu diingat sebagai era ketika TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi yang mempersatukan bangsa dari Sabang sampai Merauke.
Pada forum kebangsaan ini, Dr. Bernard juga mengenang peristiwa tragis jebolnya tanggul Situ Gintung di masa pemerintahan SBY, yang menyebabkan banjir besar di wilayah Cirendeu Permai, termasuk kediaman Kakek Seto, hingga mengakibatkan kerugian besar.
Dari peristiwa tersebut, lahir seorang anak bernama Tanggul (7 tahun), putra dari Sarif Bonyo, warga asli Cirendeu. Anak ini dikenal tangguh, mahir berenang, bersilat, menyelam, serta mencari ikan di kawasan waduk yang dikenal berbahaya dan penuh misteri.
Dr. Bernard, sebagai orang tua angkat sekaligus warga Cirendeu, berharap Tanggul dan adiknya, Setu, dapat memperoleh bantuan pendidikan mengingat kondisi ekonomi keluarga mereka yang memprihatinkan, dengan orang tua yang bekerja sebagai pengamen dan pemulung.
Dengan penuh empati, Kakek Seto berencana membantu pendidikan Tanggul di sekolahnya di kawasan Bintaro Jaya. Tanggul sendiri berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh agar kelak dapat meraih cita-cita menjadi anggota Polri atau TNI demi menjaga keamanan dan kedaulatan negara.
Diharapkan niat baik ini mendapat ridho dari Allah SWT dan menjadi amanah dalam membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Salam Satu Pena, Satu Suara, Satu Rasa.
GAKORPAN ASTA CITA menuju Indonesia Emas 2045.

