
MERANGIN – Harga kelapa sawit, baik jenis Tandan Buah Segar (TBS) maupun brondolan, mengalami penurunan tajam yang sudah berlangsung lebih dari satu minggu di Kabupaten Merangin, Jambi. Kondisi ini memicu keluhan luas dari para petani maupun pelaku usaha lokal yang merasakan dampak berat terhadap perekonomian mereka.
Penurunan harga ini dibenarkan oleh Aji (25), pemilik tempat penampungan sawit atau loading ramp yang berlokasi di jalur dua arah SMAN 6, Desa Sungai Ulak, Kecamatan Bangko. Menurut penuturannya kepada media pada Sabtu pagi (30/5/2026), penurunan ini sangat terasa dan berdampak langsung.
“Sudah lebih 1 minggu, harga kelapa sawit baik TBS maupun brondolan turun drastis,” ungkap Aji.
Data harga yang ia sampaikan menunjukkan penurunan yang sangat signifikan. Saat ini, harga TBS hanya bertahan di angka Rp2.400 per kilogram, sedangkan brondolan di angka Rp2.420 per kilogram. Padahal sebelumnya, harga TBS pernah mencapai Rp3.100 per kilogram dan brondolan menyentuh angka Rp4.050 per kilogram.
Penurunan harga ini tidak hanya merugikan Aji sebagai pemilik tempat bongkar muat dan penyortiran, tetapi juga memukul perekonomian ribuan petani sawit di wilayah tersebut.
“Kami berharap harga TBS dan brondolan segera kembali naik seperti harga sebelumnya, bahkan lebih tinggi lagi, supaya lebih sejahtera—baik petani maupun kami pengusaha loading ramp,” harap Aji.
Ia menambahkan, penurunan harga ini membuat neraca keuangan menjadi tidak seimbang. Biaya operasional, seperti gaji pekerja bongkar muat, tetap harus dibayarkan penuh dan tidak bisa dikurangi. Di sisi lain, petani juga terbebani tingginya harga pupuk yang belum turun.
Keprihatinan serupa juga disampaikan Nababan (50), seorang petani sawit setempat. Ia menuturkan, pendapatan petani menurun drastis, sementara pengeluaran justru terus bertambah.
“Penurunan harga ini sangat berpengaruh. Pemasukan berkurang, tapi pengeluaran makin banyak. Harga pupuk masih mahal, ongkos angkut naik, dan upah tenaga kerja tidak mungkin dipotong,” keluh Nababan.
Ia pun meminta perhatian pemerintah dan pihak terkait untuk segera turun tangan. “Semoga pemerintah memikirkan nasib kami para petani, supaya roda perekonomian di sini tetap berjalan baik dan kami tidak semakin terpuruk,” tambahnya.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan harga kelapa sawit akan kembali stabil dan naik seperti sedia kala, membuat para petani dan pengusaha di Merangin terus menunggu harapan perubahan kebijakan atau pasar yang lebih menguntungkan.( Rudi )








