ASPAL “HANGAT KUKU” DIPAKAI PERBAIKI JALAN NASIONAL! Dikerjakan Malam-Malam, Kualitas Diragukan, Uang Negara Terbuang Percuma?

MERANGIN — Sorotan tajam mengarah ke pelapisan ulang jalan nasional di Desa Sungai Ulak, Kecamatan Nalo Tantan. Pekerjaan yang dilakukan di malam hari justru memicu kecurigaan besar di kalangan masyarakat — aspal yang dihampar ternyata hanya “hangat kuku”, jauh dari suhu standar!

Berdasarkan pantauan media pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 19.30 WIB, pekerjaan berlangsung di ruas jalan nasional tepat di depan Koperasi Perkasa Nalo Tantan (KPNT). Bagian yang dilapisi hanya sekitar 20 meter, namun cara pengerjaannya sangat mencurigakan:

  • Penghamparan dilakukan sepenuhnya manual mengandalkan tenaga manusia, tanpa alat berat yang layak
  • Pemadatan hanya pakai mesin gilas mini (diperkirakan 2 ton), bukan alat standar jalan nasional
  • Tidak ada pengawas lapangan maupun pihak pelaksana yang memantau — hanya 6 orang pekerja yang bekerja tanpa arahan

Salah satu pekerja bernama Agus hanya mengakui singkat: “Proyek ini dikerjakan oleh Balai,” tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.

Pelanggaran paling mencolok terlihat pada kualitas materialnya. Saat awak media mencoba menggenggam aspal yang baru dihampar, suhunya terasa hanya hangat kuku — diperkirakan di bawah 50°C!

Padahal ketentuan teknis menegaskan: suhu aspal saat pemadatan minimal harus 90°C!

Apa artinya? Suhu yang terlalu rendah membuat aspal kehilangan daya rekatnya. Sekuat apa pun digilas, tidak akan menyatu sempurna dengan permukaan jalan. Rongga udara tetap tertinggal, air mudah merembes masuk — dan dipastikan aspal akan cepat retak, amblas, dan rusak kembali dalam waktu singkat!

Pengguna jalan yang melintas sangat menyayangkan hal ini:

“Kalau aspalnya sudah dingin saat dihampar, apa gunanya diperbaiki? Sebulan dua bulan pasti rusak lagi. Uang negara terbuang percuma!”

Masyarakat mendesak instansi berwenang untuk:
Segera meninjau hasil pekerjaan yang menyimpang ini,
Memeriksa penyebab aspal dihampar di luar suhu standar,
Mengevaluasi pengawasan yang nyaris tidak ada di lapangan

Jangan sampai perbaikan jalan hanya jadi “obat penenang sementara” — rakyat terus menanggung kerugian akibat jalan yang rusak berulang kali!

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Balai terkait penyimpangan prosedur yang terjadi. Pantau terus!
 

Reporter : Rudianto Kaperwil Jambi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jagan mengambil salin apa pun di konten ini