Viral! Warganet Ngaku Dihubungi Polisi Gadungan Lewat Video Call, Penipu Kuasai NIK dan Alamat Lengkap Korban
JAKARTA — Modus penipuan yang mengatasnamakan aparat kepolisian kembali menjadi sorotan. Sebuah curahan hati (curhat) yang diunggah oleh Ahmad Rifai pada 6 Juli 2026 viral di media sosial setelah menceritakan pengalamannya dihubungi seorang pria yang mengaku sebagai anggota Polda Metro Jaya melalui panggilan video (video call).
Hingga berita ini ditulis, unggahan tersebut telah mendapat sekitar 2.000 tanda suka (like) dan reaksi emotikon “wow” dari warganet.
UBanyak netizen mengaku khawatir karena modus serupa dinilai semakin meyakinkan.Dalam unggahannya, Ahmad Rifai mengaku menerima panggilan dari seseorang yang mengaku sebagai anggota kepolisian. Pelaku bahkan menampilkan latar yang menyerupai kantor polisi sehingga terlihat meyakinkan.
Pelaku kemudian mengatakan bahwa identitas Ahmad Rifai telah disalahgunakan oleh pihak lain untuk melakukan transaksi narkotika. Dengan alasan ingin membantu menyelesaikan persoalan tersebut, pelaku berusaha membuat korban percaya.
Namun, Ahmad Rifai memilih tetap meladeni percakapan tanpa mengikuti arahan pelaku.
Ketika upayanya gagal, penipu justru melontarkan kata-kata kasar sebelum mengakhiri komunikasi.”Dia bilang mau bantu saya karena data saya disalahgunakan orang buat transaksi narkotika. Saya ladenin sampai saya dimaki-maki sama si penipu,” tulis Ahmad Rifai.
Yang membuat korban semakin terkejut, pelaku mampu menyebutkan data pribadinya secara lengkap, mulai dari Nomor Induk Kependudukan (NIK) hingga alamat tempat tinggal yang benar.
Dalam unggahan yang sama, Ahmad Rifai mengaku bingung dari mana pelaku memperoleh data tersebut.”Saya mau tanya, gimana caranya dia bisa tahu nomor NIK KTP sama alamat lengkap saya? Padahal enggak pernah daftar aplikasi yang aneh-aneh.
Apa mungkin dari resi paket yang pernah saya beli ya?” tulisnya.
Unggahan tersebut langsung memancing beragam komentar dari warganet.
Sebagian menduga data pribadi korban berasal dari kebocoran data, penyalahgunaan data pelanggan, maupun sumber lain yang tidak diketahui.
Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian mengenai asal-usul data yang digunakan pelaku.
Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar semakin waspada terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan aparat penegak hukum.
Masyarakat diimbau tidak mudah percaya terhadap panggilan telepon atau video call yang disertai ancaman, tekanan, maupun permintaan data pribadi dan segera melakukan verifikasi melalui saluran resmi apabila menerima panggilan serupa.










