Tahlil Hari Ke-7 KH. Adib Rofiuddin Izza, Bukti Cinta Jamaah kepada Sang Kiai
jejakkejahatan.web.id
CIREBON – Rasa cinta, hormat, dan rindu mendalam mewarnai suasana di Pondok Buntet Pesantren, Kabupaten Cirebon, pada malam Minggu, 7 Juni 2026. Ribuan jamaah dari berbagai penjuru daerah berkumpul memenuhi kompleks pesantren untuk menghadiri acara tahlil dan doa bersama dalam rangka memperingati hari ke-7 wafatnya ulama besar, KH. Adib Rofiuddin Izza.
Kegiatan suci ini dihadiri oleh keluarga besar almarhum, para pengasuh pesantren, para ulama dan tokoh agama, para santri, alumni, serta masyarakat umum yang selama ini pernah mendapatkan ilmu, bimbingan, dan keberkahan dari sosok almarhum. Suasana berlangsung dengan sangat khidmat, syahdu, dan penuh nuansa keagamaan. Rangkaian acara diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, pembacaan tahlil, beriringan dzikir yang dilantunkan secara bersama-sama, pembacaan manaqib, hingga diakhiri dengan doa bersama yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.
Dalam kesempatan tersebut, pihak panitia penyelenggara menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan merupakan wujud nyata penghormatan tertinggi sekaligus ikhtiar bersama untuk mendoakan almarhum. Selama masa hidupnya, KH. Adib Rofiuddin Izza dikenal sebagai sosok yang telah mendedikasikan seluruh hidup, waktu, dan tenaganya semata-mata untuk kemajuan dunia pendidikan, penyebaran dakwah yang damai, serta pembinaan akhlak dan keimanan umat Islam.
Sementara itu, perwakilan keluarga besar almarhum berdiri di hadapan ribuan hadirin untuk menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya. Mereka sangat mengapresiasi dukungan moril, kehadiran, serta doa yang telah dipersembahkan oleh berbagai pihak kepada almarhum. Di samping itu, keluarga juga turut memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila selama masa hidup dan perjuangan almarhum, terdapat tutur kata, sikap, maupun tindakan yang mungkin kurang berkenan atau memiliki kekhilafan, baik yang disengaja maupun tidak.
Penilaian mendalam mengenai sosok almarhum juga disampaikan oleh tokoh agama yang hadir, KH. Muhammad Ilyas Khaelani. Menurut pandangannya, KH. Adib Rofiuddin Izza adalah contoh nyata seorang ulama yang memiliki sifat tawadhu atau rendah hati yang luar biasa, sangat bijaksana dalam mengambil setiap keputusan, serta memiliki dedikasi dan keteguhan hati yang tinggi. Beliau dinilai sangat gigih dalam menjaga kelestarian tradisi keilmuan yang menjadi ciri khas pesantren, serta senantiasa berupaya keras mempererat tali persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman masyarakat.
Acara peringatan hari ke-7 ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh para ulama, memohon agar segala amal ibadah dan perjuangan almarhum diterima di sisi Allah SWT, serta ditempatkan di tempat yang paling mulia. Kepergian KH. Adib Rofiuddin Izza memang meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, para santri, dan seluruh masyarakat yang mengenalnya. Namun, di balik kesedihan itu, nilai-nilai keteladanan, kebijaksanaan, serta jejak perjuangan yang beliau tinggalkan diyakini akan terus hidup, menjadi sumber inspirasi, dan menjadi pelita bagi generasi penerus untuk terus melanjutkan cita-cita mulia yang beliau perjuangkan.
(turah/mangbetu)













