
Mempawah – jejakkejahatan.web.id Polemik dugaan pencemaran limbah dari dapur program **Makan Bergizi Gratis (MBG)** di Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, kian memanas. Setelah keluhan warga ramai diperbincangkan dan viral di publik, operasional dapur tersebut akhirnya dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium dari instansi terkait.Penghentian operasional dilakukan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sungai Batang yang diketahui dikelola oleh Yayasan Lentera Pangan Borneo bersama Mitra Dapur Kaia88. Langkah ini diambil setelah muncul dugaan kuat bahwa limbah dapur telah mencemari saluran air di sekitar permukiman warga.Kepala MBG Regional Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, membenarkan keputusan penghentian sementara tersebut. Ia menyebut langkah itu merupakan bagian dari proses pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem pengelolaan limbah yang diterapkan oleh pengelola dapur MBG.“Operasional SPPG Sungai Batang untuk sementara dihentikan sampai proses pemeriksaan selesai, termasuk menunggu hasil uji laboratorium kualitas air dari dinas terkait,” ujar Agus, Minggu (19/4/2026).Keputusan ini disebut merujuk pada laporan internal, temuan investigasi lapangan, serta pertimbangan dari pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) Dalam surat resmi tertanggal 18 April 2026, disebutkan bahwa operasional dapur tidak boleh kembali berjalan sebelum dipastikan sistem pengelolaan limbah memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah.Di lapangan, sejumlah warga mengaku telah merasakan dampak langsung dari aktivitas dapur tersebut. Air parit yang selama ini digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari dilaporkan berubah kondisi.“Airnya sekarang keruh dan berbau menyengat. Biasanya masih bisa dipakai untuk cuci atau kebutuhan lain, sekarang sudah tidak berani lagi digunakan,” ungkap salah seorang warga setempat.Keluhan warga ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut potensi dampak kesehatan dan lingkungan. Beberapa warga bahkan mengaku tidak lagi menggunakan air parit tersebut untuk kebutuhan rumah tangga maupun keperluan ibadah.Kasus ini pun memicu perhatian aparat pemerintah desa dan instansi terkait. Desakan warga agar dilakukan penelusuran terhadap sistem pengelolaan limbah dapur MBG semakin kuat setelah foto dan video kondisi air di sekitar lokasi beredar luas di media sosial.Pihak MBG Regional Kalbar menegaskan bahwa dapur SPPG Sungai Batang hanya dapat kembali beroperasi apabila telah dinyatakan lolos uji kelayakan air serta memenuhi ketentuan dalam Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 401.1 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan MBG Tahun Anggaran 2026“Jika hasil uji laboratorium menunjukkan pengelolaan limbah sudah sesuai standar, maka operasional bisa dipertimbangkan kembali. Namun jika tidak, tentu akan ada evaluasi lebih lanjut,” tegas Agus.Hingga kini, warga masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari instansi terkait. Sementara itu, penghentian operasional dapur MBG di Sungai Batang menjadi sorotan publik, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana pengawasan terhadap pengelolaan limbah dalam pelaksanaan program MBG di daerahEditor: Ananda n









