
Ambon, Jejakkejahatan.web.id — Upaya pembenahan sektor lingkungan hidup di Kota Ambon menunjukkan perkembangan signifikan sepanjang tahun 2025, seiring dengan langkah strategis yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah dan kebersihan kota secara menyeluruh. Perubahan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kebersihan semata, tetapi juga diarahkan untuk membangun fondasi kota yang modern, berkelanjutan, serta mampu menjawab tantangan perkembangan wilayah perkotaan.
Transformasi tersebut dipimpin langsung oleh Kepala DLHP, Apries Gaspersz, yang menitikberatkan pada pembenahan sistem tata kelola persampahan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, Pemerintah Kota Ambon berupaya menciptakan sistem yang lebih efisien, adaptif, serta mampu mendukung konsep kota hijau yang menjadi arah pembangunan jangka panjang.
Pandangan positif terhadap perubahan ini juga disampaikan oleh tokoh muda Ambon, Mo Latuconsina, yang menilai bahwa langkah yang diambil pemerintah daerah merupakan bagian dari evolusi besar bagi identitas “Kota Manise”. Menurutnya, Ambon kini tidak hanya berorientasi pada keindahan visual, tetapi mulai bertransformasi menjadi kota berkelanjutan yang memiliki daya saing di tingkat regional.
Ia menegaskan bahwa inovasi yang dilakukan DLHP tidak terbatas pada aspek kebersihan lingkungan, melainkan juga menyentuh aspek efisiensi sistem, kesehatan masyarakat, serta kesiapan kota dalam menghadapi tuntutan modernisasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangannya pada Minggu, 19 April 2026, sebagai bentuk apresiasi terhadap langkah progresif pemerintah kota.
Salah satu program unggulan yang menjadi sorotan adalah pengadaan armada mini dump truck yang dirancang khusus untuk menjangkau wilayah perbukitan di Kota Ambon. Program ini dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Ambon di bawah kepemimpinan Penjabat Wali Kota, Bodewin Wattimena, dengan menyediakan sedikitnya 10 unit armada guna meningkatkan efektivitas layanan pengangkutan sampah berbasis door-to-door.
Kebijakan tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi geografis Kota Ambon yang didominasi wilayah berbukit, sehingga memudahkan akses pengangkutan sampah dari kawasan permukiman yang selama ini sulit dijangkau. Selain itu, langkah ini juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada Tempat Penampungan Sementara (TPS) serta meminimalkan potensi kemacetan akibat aktivitas distribusi sampah.
Di sisi lain, DLHP juga menerapkan sistem pemilahan sampah berbasis jadwal terstruktur yang melibatkan masyarakat secara langsung. Dalam skema ini, sampah basah dijadwalkan untuk dikumpulkan pada hari Senin, Rabu, dan Jumat, sementara sampah kering pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, sehingga tercipta pola pengelolaan yang lebih terorganisir.
Sistem tersebut mendukung pengembangan metode pengolahan modern berbasis Material Recovery Facility (MRF) dan Refuse Derived Fuel (RDF), yang memungkinkan pemanfaatan kembali sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomis. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak lagi sekadar proses pembuangan, tetapi juga menjadi bagian dari siklus ekonomi yang produktif.
Penguatan teknologi pengolahan sampah turut dilakukan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Toisapu melalui dukungan hibah dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Teknologi ini memungkinkan proses pemilahan yang lebih cerdas terhadap sampah yang memiliki nilai guna, sementara jumlah residu yang tidak dapat dimanfaatkan dapat ditekan secara signifikan untuk memperpanjang masa operasional TPA.
Langkah-langkah tersebut menempatkan Kota Ambon pada jalur pengembangan kota rendah emisi dengan pendekatan ekonomi sirkular, yang sejalan dengan praktik pengelolaan lingkungan di berbagai kota maju dunia. Pendekatan ini juga menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan secara global.
Lebih dari sekadar pembaruan teknis, DLHP juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat dengan melibatkan berbagai elemen, mulai dari komunitas pemuda, lembaga keagamaan, hingga organisasi lokal. Kolaborasi ini diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital, seperti sistem pelaporan berbasis aplikasi, yang menjadi bagian dari pengembangan konsep smart city, sehingga menjadikan Ambon sebagai kota yang tidak hanya bersih, tetapi juga inovatif dan berorientasi masa depan.
