Air Sungai Meliau Tetap Keruh Pekat, Penertiban PETI Harus Meluas dan BerkelanjutanMeliau

Air Sungai Meliau Tetap Keruh Pekat, Penertiban PETI Harus Meluas dan BerkelanjutanMeliau

(Sanggau),29 Juli 2026-

jejakkejahatan media.web.id.-

Kondisi aliran air sungai Meliau, kecamatan Meliau, kabupaten Sanggau, kembali memicu kekhawatiran serius masyarakat.

Dipantau pada Rabu (29/07),air sungai tampak keruh pekat berwarna kecokelatan, sangat kontras dengan karakter alaminya yang sejak dulu tetap jernih,baik saat musim hujan maupun musim kemarau.

Perubahan drastis ini diduga kuat merupakan dampak langsung dari aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang beroperasi. Hingga air pembuangan(limbah) teraliri dari anak sungai ke sepanjang aliran Sungai Meliau.

Kondisi ini menjadi perhatian penting beriringan dengan upaya penertiban yang tengah dijalankan pasca kesepakatan mediasi penolakan PETI di Sungai Boyan.

Masyarakat menegaskan penanganan tidak boleh berhenti hanya di satu titik saja, melainkan harus mencakup pula Sungai Meliau serta anak sungai dan wilayah aliran terkait secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Kekeruhan yang terjadi bukan sekadar perubahan tampilan air, melainkan tanda kerusakan ekologis yang nyata: tanah longsor ditepian, penumpukan endapan lumpur di dasar sungai, terancamnya keberlangsungan ikan, dan biota air lainnya, hingga penurunan kualitas air yang menjadi sumber utama kebutuhan sehari-hari, pertanian, dan perikanan warga.

Jika dibiarkan berlarut-larut, kerusakan ini akan sulit dipulihkan dan merampas hak hidup generasi mendatang atas lingkungan yang sehat dan layak huni.Masyarakat mendesak aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk melanjutkan serta memperluas langkah penertiban sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku, menindak tegas setiap oknum dan kelompok yang masih melanggar tanpa pandang bulu.

Penindakan harus disertai pemulihan lingkungan sungai dan pengawasan jangka panjang, bukan hanya tindakan sesaat.”Sungai Meliau adalah warisan alam dan sumber kehidupan kami turun-temurun.

Dulu jernih di segala musim,kini berubah keruh dan membahayakan kelangsungan hidup kami. Kami berharap penertiban yang dijalankan secara konsisten, menyeluruh, dan transparan, sehingga kelestarian ekosistem sungai dapat pulih dan terjaga keberlanjutannya untuk anak cucu kelak,” ungkapan perwakilan warga setempat.

Seluruh pihak sepakat bahwa penanganan PETI harus menjadi gerakan berkelanjutan, tidak hanya pada Sungai Boyan yang menjadi sorotan awal, tetapi juga mencangkup Sungai Meliau dan wilayah lain yang terdampak.

Keseimbangan alam dan hak hidup masyarakat harus menjadi prioritas utama diatas keuntungan sesaat yang merugikan banyak pihak.

Jurnalis: Supriadi Editor: D. Sunardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jagan mengambil salin apa pun di konten ini